Pasis Dikreg Sesko TNI LVI Ikuti Ritual Adat Bapinta Ka’ Jubata di Tugu Batu Pakat Binua Pantu Seratus dan Doa Bersama

Berita28 Dilihat

Landak – MetroOneNews.com

Pasis Pendidikan Reguler (Dikreg) Sesko TNI Angkatan LVI melaksanakan rangkaian ritual adat Bapinta Ka’ Jubata sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus memohon turunnya hujan di wilayah Kabupaten Landak, yang bertempat di Tugu batu Pakat binua, pantu seratus kecamatan ngabang, kabupaten landak, provinsi Kalimantan Barat, Sabtu (05/09/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Pasis dalam melaksanakan pengamatan dan pengkajian kondisi wilayah, khususnya terkait penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Landak.

Ritual adat Bapinta Ka’ Jubata dilaksanakan dengan melibatkan unsur pemerintah daerah, TNI-Polri, tokoh adat, tokoh masyarakat serta perwakilan organisasi kemasyarakatan. Pelaksanaan kegiatan juga menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi dan sinergi antara TNI dengan masyarakat dalam menghadapi berbagai persoalan di wilayah, khususnya dampak musim kemarau dan potensi Karhutla.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Ketua Dewan Adat Dayak Kabupaten Landak yang diwakili Sekretaris Umum Marsianus, S.Ip., M.Si.; Danramil 1210-06/Ngabang yang diwakili Serka Jumran; Camat Ngabang Brian Paskalis Dilen, S.Pd.; Pj. Kapolsek Ngabang Iptu Rinto, S.Sos., S.H.; Ketua Dewan Adat Dayak Kecamatan Ngabang Cahyatanus, S.H.; Temanggung Binua Pantu Seratus Pak Amat; perwakilan lintas organisasi kemasyarakatan wilayah Kecamatan Ngabang; serta pengurus adat Kecamatan Ngabang.

Turut hadir Tim Satgas, yaitu Brigjen TNI Achmad Fauzi, S.I.P., M.M., M.H.I. dan Tertua Pasis Kolonel Inf Gunawan

Dalam pelaksanaannya, ritual Bapinta Ka’ Jubata dipimpin oleh para tokoh adat sebagai bentuk ungkapan syukur dan doa bersama agar diberikan keselamatan, keberkahan serta turunnya hujan yang cukup bagi masyarakat dan lingkungan. Kegiatan berlangsung secara khidmat dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan kearifan lokal masyarakat Dayak.

Pelaksanaan kegiatan ini menunjukkan bahwa penanggulangan Karhutla tidak hanya membutuhkan pendekatan teknis dan operasional, tetapi juga perlu memperhatikan aspek sosial, budaya, kearifan lokal serta keterlibatan masyarakat.

Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan berlangsung dalam keadaan aman, tertib, serta penuh kekhidmatan.

(EWS)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan