BANDA ACEH | METRO ONE NEWS – Ancaman terhadap keutuhan bangsa tidak selalu datang melalui peperangan bersenjata. Di era digital, ancaman justru dapat menyusup melalui informasi, propaganda, hingga manipulasi pikiran masyarakat. Karena itu, generasi muda diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap perang kognitif yang semakin berkembang melalui ruang digital.
Peringatan tersebut disampaikan Kepala Pusat Bela Negara Badan Cadangan Nasional Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Parluhutan Marpaung, dalam keterangannya yang diterima di Banda Aceh, Minggu (1/11/2026).
Menurutnya, perang kognitif merupakan bentuk konflik modern yang tidak menggunakan persenjataan seperti perang konvensional, melainkan menjadikan pikiran manusia sebagai sasaran utama untuk memengaruhi cara berpikir, membentuk opini, hingga melemahkan suatu bangsa.
“Perang kognitif adalah bentuk konflik atau peperangan modern yang kini perlu diwaspadai. Perang kognitif tersebut tidak menggunakan persenjataan sebagaimana perang konvensional, melainkan menargetkan pikiran manusia sebagai medan tempurnya dalam upaya melemahkan suatu bangsa,” ujarnya.
Jenderal TNI bintang satu tersebut menjelaskan bahwa perang kognitif berlangsung secara senyap dan sistematis melalui berbagai saluran komunikasi, terutama media digital. Salah satu bentuk yang perlu diwaspadai adalah penyebaran berita bohong atau hoaks.
Ia menilai generasi muda menjadi kelompok yang perlu memiliki pemahaman kuat mengenai ancaman tersebut. Tingginya intensitas penggunaan media digital membuat mereka berhadapan dengan berbagai informasi yang belum tentu benar dan dapat mengandung unsur manipulasi.
“Bagi generasi muda, pemahaman terhadap perang kognitif menjadi sangat penting karena intensitas interaksi dengan media digital yang sangat tinggi. Mereka rentan terhadap manipulasi informasi, disinformasi, propaganda, polarisasi, dan pembentukan opini yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat,” kata lulusan Akademi Militer 1995 tersebut.
Literasi Digital Jadi Benteng Pertahanan Bangsa
Menghadapi perkembangan ancaman tersebut, kesadaran bela negara tidak cukup hanya diwujudkan melalui pemahaman tentang pertahanan fisik. Kemampuan menyaring informasi, berpikir kritis, dan tidak mudah terpengaruh provokasi juga menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan bangsa.
Generasi muda diharapkan mampu membangun budaya bermedia sosial yang sehat dengan membiasakan diri memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya kepada orang lain.
Selain itu, masyarakat perlu menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi, ujaran kebencian, serta konten provokatif yang berpotensi memecah belah persatuan.
Peringatan Brigjen TNI Parluhutan Marpaung tersebut menjadi pengingat bahwa tantangan bela negara di era modern semakin kompleks. Ruang digital bukan hanya sarana komunikasi dan memperoleh informasi, tetapi juga membutuhkan tanggung jawab serta kewaspadaan dalam penggunaannya.
Menjaga keutuhan bangsa bukan hanya tugas aparat pertahanan dan keamanan. Generasi muda juga memiliki peran penting dengan menjaga persatuan, meningkatkan literasi digital, serta tidak mudah terpengaruh informasi yang dapat memecah belah masyarakat. (TIM)
Metro One News – Mengungkap Fakta, Menyuarakan Kebenaran.












